Strategi Dalang Muda Melawan Keacuhan Generasi Z Terhadap Budaya Lokal

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Peringatan Hari Wayang Nasional memunculkan kembali isu penting tentang pelestarian budaya lokal dalam lanskap media digital yang semakin kompetitif. Di tengah gempuran budaya pop global dan arus informasi digital, wayang kini tidak lagi sekadar tontonan sakral di lapangan, melainkan telah bertransformasi menjadi konten yang harus bersaing di linimasa TikTok dan Youtube

Bagi sebagian besar anak muda, profesi impian mungkin berkisar diantara content creator, startup founder, atau pekerjaan di industri kreatif yang modern. Namun, bagi Hazir Lukman Muharrom, pimpinan Sanggar Mustika Buana Sari, alih alih tertarik dengan profesi yang diminati saat ini, Hazir justru mencintai hal yang dianggap kuno yaitu wayang golek.

"Awal mungkin saya menjadi seorang dalang itu  karena memang dulu hobi atau suka gitu memainkan wayang golek, Sekarang, ini sudah jadi profesi," ujar Hazir. Ia mengakui bahwa inspirasi terbesarnya datang turun temurun dari orang tuanya yang pertama kali memperkenalkan pagelaran wayang golek yang dimainkan oleh maestro legendaris, Abah Hj. Asep Sunandar Sunarya, yang sekarang sang maestro menjadi idola utamanya. 
Namun, mewarisi keahlian bukan berarti meniru mentah-mentah. Hazir menyadari eksistensi wayang di era sekarang masih kurang tersorot, agar wayang tetap relevan sebagai media dakwah atau pembelajaran, ia melakukan modernisasi.

 "Saya menjadikan salah satu semangat dari beliau ketika membawakan wayang golek ini sebagai daya tarik yang mana masih relevan untuk menjadi media dakwah atau pembelajaran pada zaman sekarang, dan menjadi ciri khas mungkin bagi saya bahwa ketika membawakan pagelaran wayang golek itu dengan sentuhan sentuhan modern untuk menarik minat penonton khususnya generasi sekarang." jelas Hazir.

Inovasi Hazir terlihat dalam pertunjukan yang kini tak lagi terpaku pada format tradisional. Ia menambahkan irama dari alat musik modern seperti perkusi dan biola, serta menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Meski demikian, pakem tetap dijaga agar makna cerita wayang tetap utuh dan dapat diserap oleh masyarakat luas.

Transformasi juga terjadi di luar panggung. Sejak 2024, Hazir aktif memanfaatkan Instagram, TikTok, dan YouTube sebagai media promosi dan penyebaran konten wayang golek. Namun, ia mengakui bahwa persaingan di dunia digital sangat berat.

Namun, medan digital penuh ranjau. Hazir mengakui bahwa persaingan dengan hiburan lain sangat berat. "Eksistensi wayang mulai tergeserkan oleh budaya-budaya luar, apalagi dari budaya asing," keluhnya. Hazir juga menggaris bawahi bahwa budaya Wayang ini bergantung pada dalang yang mengambil peran, “maju atau tidaknya wayang  didunia itu tergantung pada dalangnya, ketika dalang bisa mengkorelasikan kebutuhan kebutuhan zaman menggunakan wayangnya sendiri yang mana wayang itu sangat bermanfaat sebenernya bagi kita, nah itu kembali lagi kepada pelaku pelaku seni/seniman/seniwati yang menggeluti dunia itu sendiri termasuk para dalang yang bertanggung jawab atau sebagai pelaku seniman yang memegang tentang wayang itu sendiri”.

Tantangan terberat baginya adalah keacuhan generasi Z dan milenial. "Melihat perkembangan sekarang, budaya-budaya luar banyak masuk ke Indonesia atau budaya sendiri mulai dilupakan” “hampir semua dikalangan generasi muda kayanya masih acuh tak acuh dengan budayanya sendiri," tambahnya.

Pandangan serupa datang dari pegiat budaya di kampus. Muhammad Ibtida Mubarok, Ketua UKM Arthabuana, yang melihat teknologi sebagai pedang bermata dua bagi keberagaman budaya.

"Karena kalau di zaman sekarang lebih mudah untuk mengakses itu, lebih mudah untuk melihat atau mengetahui keberagaman budaya yang ada di dunia ini seperti apa. Tapi banyak anak muda itu hanya tahu dari luarannya saja tanpa tahu makna secara mendalamnya seperti apa." kata Ibtida.

Ia sepakat bahwa ruang digital masih didominasi budaya global. Budaya lokal, termasuk wayang, sering kali meredup karena dianggap "kurang keren" oleh pengguna teknologi.

Melalui keterlibatannya di UKM Arthabuana, Ibtida dan rekan-rekan mahasiswa terus berupaya melestarikan tari dan alat musik tradisional. Mereka membuktikan bahwa semangat merawat akar budaya masih hidup di kampus.

Kisah Hazir dan pandangan Ibtida menunjukkan bahwa medan pelestarian wayang telah bergeser dari panggung desa ke panggung digital. Wayang bukan hanya lagi warisan yang harus dijaga dari kepunahan, tetapi juga aset visual dan naratif yang harus diadaptasi.

Reporter : Fitria, Nazla, Adi
Penulis : Fathir 
Desain : Reina

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita