Jejak Budaya: Ketika Angklung Bicara, Dunia Mendengar Sunda

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Jawa Barat dikenal sebagai wilayah yang kaya akan seni dan budaya, salah satunya musik tradisional Sunda, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga erat kaitannya dengan ritual adat dan kegiatan masyarakat. Namun, musik tradisional sunda kini lebih banyak diposisikan sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Di antara berbagai alat musik, angklung menjadi ikon paling menonjol. Terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan, angklung awalnya digunakan dalam upacara pertanian dan pemujaan. Nama "angklung" berasal dari kata Sunda angkleung-angkleungan yang dikaitkan dengan kata "angka" (nada) dan "lung" (pecah). Angklung tradisional menggunakan sistem nada pentatonis khas Sunda, yaitu da-mi-na-ti-la-da. Selain angklung, kesenian seperti Berokan di Cirebon yang berfungsi mengusir roh jahat, serta Calung Tarawangsa di Tasikmalaya yang dipakai dalam ritual menanam padi, menunjukkan eratnya hubungan musik dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Selain angklung, masih banyak alat musik lain yang mencerminkan kekayaan tradisi masyarakat Sunda. Namun, tidak semua sepenuhnya lahir dari tradisi lokal, sebab dalam perjalanannya, musik Sunda juga dipengaruhi oleh budaya luar. Menurut Ibu Zahrotul Mahmudah, staf koleksi Museum Sri Baduga Bandung, musik tradisional Jawa Barat juga tidak lepas dari pengaruh luar. “Kalau dikatakan ada akulturasi ya mungkin ada. Misalnya rebana itu akulturasi dari perpaduan Arab. Tapi kalau alat musik lain saya kurang paham, karena museum ini lebih fokus ke koleksi tradisional,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa musik Sunda berkembang seiring dengan interaksi budaya.
Sebagian besar alat musik tradisional dibuat dari bambu dan kayu, sehingga perawatannya memerlukan pengaturan suhu dan kelembaban khusus. “Kayu misalnya, harus tetap di suhu ruang dan tidak lebih dari 24°C. Kelembabannya pun tidak boleh melebihi 60%. Itu kenapa kami pasang AC 24 jam penuh dan memakai alat pengukur kelembaban,” jelas Ibu Zahrotul. Upaya ini penting agar koleksi bisa berumur panjang dan tetap terjaga sebagai cagar budaya.
Kini, Museum Sri Baduga menyimpan lebih dari 7.000 koleksi, dengan sekitar 900 di antaranya dipamerkan. Meski informasi sebagian besar ditulis dalam bahasa Indonesia, museum juga menyediakan pemandu berbahasa Inggris serta aplikasi penunjang. Dengan demikian, musik tradisional Jawa Barat tidak hanya berfungsi sebagai warisan lokal, tetapi juga menjadi jendela budaya yang dapat dinikmati oleh masyarakat dunia.


Sumber :
https://www.scribd.com/doc/117278969/Seni-Musik-Tradisional-Di-Jawa-Barat,
https://buku.kompas.com/read/2800/inilah-sejarah-angklung-alat-musik-tradisional-dari-jawa-barat
https://musikasliindonesia.blogspot.com/p/musik-jawa-barat.html


Penulis : Ilsan
Desain : Nikita 
Reporter : Najwa & Adi

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita