Diskriminasi Digital dan Refleksi Keberagaman di Ruang Media Sosial Kampus

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus


Di era digital, keberagaman agama dan ras tidak hanya tampak dalam interaksi langsung di lingkungan kampus, tetapi juga tercermin dalam unggahan perayaan hari besar, diskusi organisasi, maupun aktivitas multikultural di media sosial. Seorang mahasiswa FEB, Alfin mengatakan bahwa beberapa unggahan sering kali “tidak secara inklusif mewakili semua kelompok minoritas atau malah memicu perdebatan yang tidak sehat jika tidak dikelola dengan baik.”

Pendapat serupa juga muncul dari Nisya, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi  yang menyebut bahwa meski ruang digital kampus cukup terbuka, “kadang ruang digital ini belum sepenuhnya terbuka karena masih ada yang merasa kurang nyaman atau belum terwakili.” 

Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman di media sosial kampus masih menghadapi sejumlah tantangan, dan membutuhkan pengelolaan komunikasi yang lebih sensitif serta representatif agar semua kelompok merasa aman dan dihargai.

Masih munculnya perilaku diskriminatif di media sosial disebabkan oleh berbagai faktor. Alfin menilai anonimitas memberi ruang aman bagi sebagian orang untuk bertindak lebih bebas. “Identitas asli bisa disembunyikan,” ujarnya, sehingga komentar bernada pelecehan lebih mudah dilontarkan. 

Dari sisi lain, seorang mahasiswa dari prodi Ilmu Komunikasi, Herdiansyah menyebut bahwa media sosial dapat menjadi alat manipulatif. Ia mengatakan, “media sosial itu bisa menjadi senjata yang serba cepat… dan kita bisa melakukan ujaran kebencian menggunakan akun fake.” 

Nisya menambahkan bahwa keberanian sebagian orang muncul karena merasa terlindungi oleh layar ponsel, “padahal yang aslinya mereka ga berani tapi dengan seenaknya dia hate komen” ujarnya.

Selain itu, minimnya pemahaman tentang perbedaan serta lingkungan sosial yang homogen turut memperkuat bias dan sikap diskriminatif yang tidak disadari.

Dalam menghadapi komentar atau konten yang melecehkan agama atau ras, seluruh narasumber sepakat bahwa bersikap pasif bukanlah pilihan yang tepat. Alfin menyarankan serangkaian langkah yang lebih terarah, mulai dari edukasi, pelaporan, hingga pemblokiran bila diperlukan, serta menunjukkan dukungan kepada pihak yang terdampak. 

Herdiansyah juga menjelaskan bahwa penting untuk tidak terlalu terpengaruh dan tidak ikut-ikutan, serta mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan dan memberikan edukasi.

Sementara itu, Nisya menekankan perlunya respon sopan namun tetap tegas dan melaporkan konten bermasalah. “penting untuk tidak diem aja, kita bisa melaporkannya ke admin atau memberikan tanggapan yang sopan tapi tegas” ujarnya. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa menyadari peran sosialnya dalam menjaga ruang digital tetap aman dan menghargai keberagaman.

Pengalaman positif juga muncul dari keberagaman itu sendiri. Herdiansyah menceritakan bahwa interaksi lintas agama dan ras justru membuka kesempatan untuk saling belajar. Ia mengatakan bahwa mengenal keunikan tradisi dan kepercayaan teman-teman dari latar belakang berbeda memberikan “pelajaran yang luar biasa.”

Nisya juga merasakan hal serupa, terutama melalui diskusi mengenai tradisi atau perayaan hari besar berbeda yang mendorong mahasiswa untuk “saling mengenal dan menghargai budaya atau ilmu dari agama tersebut.” Kolaborasi semacam ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga memperluas perspektif mahasiswa dalam berinteraksi di media sosial.

Meski demikian, rasa tanggung jawab dalam bermedia sosial tetap menjadi prinsip penting dalam membuat unggahan. Alfin menegaskan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari komunitas akademik “diharapkan memiliki sensitivitas sosial yang tinggi.” 

Mahasiswa Ilkom lainnya pun mengaku sering mempertimbangkan dampak unggahan karena media sosial menyebar cepat dan mudah disalahartikan “itu bisa menjadi boomerang kepada kita,” ujarnya.

Nisya bahkan menyebut bahwa ia selalu mempertimbangkan terlebih dahulu apakah konten tersebut menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain, sehingga ia lebih memilih mencegah masalah sebelum muncul.

Di sisi lain, seorang staff UNLA, Pak Agus mengingatkan bahwa penyikapan terhadap perbedaan tetap kembali kepada diri masing-masing. Ia menilai bahwa yang terpenting adalah saling menghargai dan tidak mengganggu agama maupun ras orang lain. Ia juga berharap pemerintah dan pengguna media sosial dapat lebih menyaring konten sebelum menyebarkannya agar tidak memicu gesekan antar kelompok.

Pada akhirnya, seluruh narasumber menyampaikan pesan serupa, yaitu pentingnya memikirkan dampak dari setiap tindakan di ruang digital. Seperti yang diungkapkan Alfin, “Think before you post atau pikir sebelum mengunggah.” 

Jejak digital bersifat abadi, dan media sosial seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berbagi inspirasi, memperluas relasi, serta menjaga keberagaman yang menjadi kekuatan komunitas akademik. Dengan sikap saling menghormati dan bijak dalam berinteraksi, ruang digital kampus diharapkan dapat terus berkembang menjadi lingkungan yang lebih positif, inklusif, dan aman bagi semua.

Reporter: Chika dan Zenab
Penulis: Ilsan 
Desain: Nikita

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita